Tacit Knowledge & Explicit Knowledge – Tugas 3

Tacit Knowledge adalah pengetahuan yang pada umumnya belum terdokumentasi karena pengetahuan ini masih ada pada keahlian atau pengalaman seseorang.     Pada umumnya, Tacit Knowledge masih berhubungan dengan hal – hal yang bersifat praktek, dimana transfer knowledge tersebut masih dilakukan dengan cara sosialisasi langsung. Tacit Knowledge dapat didokumentasikan, tetapi membutuhkan penjelasan rinci agar tidak terjadi kesalahpahaman kepada orang yang membaca dokumentasi dari pengetahuan tersebut. Contohnya adalah cara melatih gajah. Akan sulit mengajarkannya jika hanya melalui teori, si pemilik knowledge lebih baik mengajarkan langsung kepada si penerima knowledge.

Sebaliknya explicit knowledge adalah pengetahuan yang formal, sistematis dan mudah untuk ditransfer atau dibagikan ke orang lain dalam bentuk dokumentasi karena umumnya merupakan pengetahuan yang bersifat teori dimana memudahkan para ahli untuk membagi pengetahuannya kepada orang lain melalui buku, artikel dan jurnal tanpa harus datang langsung untuk mengajari orang tersebut. Contohnya adalah pelajaran knowledge manajemen, di mana setiap mahasiswa dapat belajar dari modul-modul yang disediakan dosen

Transfer antara tacit knowledge dan explicit knowledge kepada orang-orang yang ada di dalam organisasi atau perusahaan dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain:

  • Socialization (tacit to tacit) : tacit knowledge di share kepada orang lain dengan cara mengamati,mencontoh dan melatih tanpa mendokumentasikan dan mempublikasikan knowledge tersebut.
  • Externalization (tacit to explicit): tacit knowledge di share dengan cara mendokumentasikan secara logis dan konseptual, sehingga mudah untuk dimengerti orang lain.
  • Combination (explicit to explicit) : explicit knowledge yang sudah dimiliki dan eksternal knowledge dikombinasikan untuk mengembangkan explicit knowledge yang sudah ada.
  • Internalization (explicit to tacit) : explicit knowledge yang sudah ada dipelajari dan dipraktekkan untuk mendapatkan tacit knowledge yang baru dan bermanfaat.
Read Users' Comments (0)

Taco – Tugas 2

“Pabrik kecil terindah yang ingin Anda lihat” -Begitulah yang dideskripsikan sang pemilik, John Hazen White. Setelah beberapa menit meninggalkan Interstate 95 di Cranston, Pulau Rhode-sebuah pabrik kecil yang indah di Cranston?–di sebelah kiri Anda terlihat sebuah bangunan rendah dari bata merah; dari salah satu sudutnya terdapat menara jam empat tingkat. Selama bertahun-tahun jendela kaca memberikan kesan yang kosong; sekarang bagian muka jam-yang dipasang tahun 1994-sekali lagi berfungsi. Inilah perusahaan Taco, Inc.-sebuah perusahaan penghasil pompa dan katup, yang jadi bukti modal manusia.

Sebagian besar pekerja Taco bekerja di pabrik ini, dan beberapa lainnya ada di pinggiran Sungai Fall, Massachusetts, kampung asal Lizzie Borden. Orang-orang di sana adalah campuran New England yang umum; Irlandia dan Italia, dan Prancis-Kanada, dan sering kali imigran Hispanik dan Asia Tengggara. Ketika Anda memasuki bangunan, seorang penerima tamu duduk langsung di depan Anda di belakang jendela dorong dari kaca. Di sebelah kanan, melalui sebuah tangga. Anda akan sampai ke kantor eksekutif. Di antaranya ada sebuah pintu bertulisan: PUSAT BELAJAR.

Di dalam ruang ini, terdapat kelas-kelas, lab komputer, sebuah perpustakaan, dan sebuah ruang konferensi, dan di akademi dan universitas publik di sekitarnya, perusahaan swasta kecil ini (dengan penjualan tahun 1995 antara $89 – $90 juta) menyediakan kesempatan belajar yang menggiurkan bagi para pekerja-lebih 6 lusin jenis kursus. Di antaranya materi standar dan ringkas seperti program orientasi, latihan kebakaran dan keamanan, pengenalan terhadap produk Taco, program menurunkan berat badan, serta program berhenti merokok. Namun masih ada lagi.

Semua rangkaian pelatihan jelas sangat berhubungan dengan pekerjaan: Ini adalah kelas-beberapa diajarkan di perguruan tinggi-membaca cetak biru, permesinan CNC, audit ISO 9000, proses pengendalian statistik, Total Quality Management, metode-metode manufaktur, pelayanan konsumen, keterampilan menelepon, hukum pekerja. Tetapi masih ada lagi.

Pada juni 1995, lima pekerja Taco meraih diploma yang setara untuk tingkat SMA, Taco menawarkan tiga tingkat kursus; bahasa Inggris sebagai bahasa kedua, melipatgandakan nilai pelatihan dengan menggunakan bahasa tersebut untuk memperkenalkan sejarah Amerika kepada para pelajar, mengajarkan bagaimana cara menghadapi masalah dengan sekolah-sekolah anak-anak mereka, dan menolong mereka belajar keterampilan mengatur uang. Selusin pekerja telah mengambil Pelajaran Percakapan dalarn bahasa Spanyol I dan II, agar dapat berkomunikasi secara lebih baik dengan rekan sekerja yang tidak berbahasa Inggris. juga ada pelajaran aritmetika, aljabar, menghitung, berpidato–dan seni dan bertaman. Tetap masih ada lagi.

Gubenur Pulau Rhode, walikota propinsi, dan pejabat masyarakat yang lain telah datang ke Taco untuk mendeskripsikan pekerjaan mereka dan menjawab berbagai pertanyaan. Hakim pengadilan tinggi datang untuk mengajarkan sejarah. Tujuh pekerja belakangan ini menyerahkan permohonan mendaftar kewarganegaraan Amerika. Anak-anak pekerja pergi menonton pertunjukan ikan paus dengan ahli kelautan dari Universitas Rhode island, dan setelah menghabiskan waktu selama dua minggu untuk membangun dekor, menulis naskah, dan berlatih, mereka lalu diajar memainkan alat musik petik dari anggota Rhode island Philharmonic dan melakukan pertunjukan musik.

Biaya yang harus ditanggung para pekerja; tidak ada, kecuali untuk pelajar di bidang seni yang harus membayar untuk bahan-bahan mereka. Biaya untuk Taco: seperempat juta dolar untuk mendirikan pusat pelatihan, yang telah dikeluarkan akhir tahun 1992; sekitar $200,000 per tahun untuk mengoperasikannya; dan sekitar $100,000 lagi untuk gaji ekstra dan kegagalan produksi tahunan. Jika berkaitan dengan pekerjaan, pekerja berhak mengikuti satu pelajaran pada satu waktu dan tetap digaji atas waktu yang mereka habiskan dalam kelas..

“Saya tidak tahu apa yang terjadi,” kata John Hazen White, “kecuali memang saya ingin melakukannya.” Sehat dan langsing, bermata bening di balik kaca mata, pria berusia 84 tahun ini telah mengambil alih Taco pada tahun 1942 ketika ayahnya-”Pak Tua”, panggilan White terhadap ayahnya-meninggal akibat serangan jantung ketika sedang mencoba untuk mendapatkan kontrak dari Departemen Pertahanan.

Seperti kebanyakan pemilik perusahaan swasta, White tidak memburu keuntungan, tetapi jelas Taco telah banyak memberikan hasil untuknya; Tiga universitas Rhode island-Brown, Johnson & Wales, dan Universitas Rhode Island-telah menerima jutaan dolar sumbangan darinya, dan Pramuka Laut negara bagian itu selama bertahun-tahun telah memulai pelayaran dalam perahu berukuran 54 kaki, sebuah kapal cutter berukuran 29 kaki, dan sebuah sekoci berukuran 40 kaki yang disumbangkannya.

Pengeluaran untuk pelatihan, pendidikan, dan kewarganegaraan. Apakah ini kebaikan hati yang bodoh dari idealisme seseorang yang berumur 80-an atau investasi seorang tua yang baik hati untuk masa depan bisnis keluarga? “Bukankah itu tergantung kami? Tentu saja,” kata White. Bagaimanapun juga dia menolak meletakkan nilai moneter atas balas jasa yang didapatnya: “Itu semua tergantung pada bentuk sikap. Orang-orang merasa mereka ikut menjadi pemain, bukan jadi bola dalam permainan.”

Jika tidak ada kuantifikasi manfaat dari pusat belajar Taco, maka keuntungan tidak akan ada juga. Taco membuat alat sirkulasi, pompa pompa, pengalir panas, pengatur aliran udara, dan berbagai jenis alat lain yang digunakan dalam peralatan pemanas rumah dan AC untuk penggunaan komersial dan perumahan. Kata John White, Jr., 39 tahun, (di sekitar pabrik, dia dikenal sebagai “Johnny” dan ayahnya adalah “Tn. White”), wakil direktur utama Taco: “Ketika saya bergabung dalam bisnis ini tahun 1982, setengah dari industri ini dimiliki perusahaan keluarga. Saya pernah menyaksikan perusahaan mati bagai lalat.”

Taco sendiri terkena tamparan keras pada resesi tahun 1990-1992, yang memukul bidang konstruksi dan juga Taco, dengan cukup berat. Perusahaan tidak mempunyai pertumbuhan penjualan dari tahun 1987 sampai 1991. Menurut Johnny White, walaupun tidak pernah merugi, tingkat keuntungannya kecil sekali. Pada musim semi 1991, penjualan tiba-tiba jatuh secara tajam: jika pada kuartal pertama trend bisnis tetap, maka bisnis Taco akan jatuh 20 persen. Bahkan mungkin tidak dapat bertahan hidup di New England, atau tetap tinggal dalam keluarga.

Ada tiga pilihan. Pertama untuk memotong biaya, pindah ke Selatan dengan tujuan mendapatkan buruh yang lebih murah, dan berharap dapat keluar dari badai; tetapi keluarga White telah melihat terlalu banyak saingan yang tidak bisa lolos dengan strategi itu. Pilihan kedua: melakukan hal yang omong kosong melalui masa resesi, membeli mesin-mesin baru, menerima kerugian, dan bertaruh akan melonjak saat masa pemulihan datang. Inilah risiko yang terlalu besar bagi White. Mereka memilih cara yang lebih sederhana tetapi lebih sulit, bertaruh bahwa modal manusia dapat melakukan apa yang tidak dapat dilakukan modal keuangan. Langkah pertama adalah mengendalikan biaya-biaya, yang berarti memotong pengeluaran modal yang telah direncanakan, dan dengan terpaksa memecat sekitar seperlima tenaga kerja pabrik dan tiga persepuluh staf kantor. Setelah menelan pil pahit tersebut, White mulai melaksanakan rencana: Menyerang persediaan dalam proses yang menyumbat pabrik, dengan demikian dapat menghasilkan
uang tunai; menginvestasi uang tunai tersebut untuk meningkatkan efisiensi pabrik; dan ketika resesi usai, menggunakan penjualan baru pada masa pemulihan untuk membeli peralatan besar sehingga meningkatkan kapasitas produksi tanpa menyewa pegawai tambahan.

Jika perbaikan yang pertama tidak dapat bergantung pada uang anggaran modal, maka untuk mencapainya bersumber pada modal manusia. Johnny White berkata: “Kami membuat komitmen yang tidak akan menggantikan manusia dengan mesin-pemecatan adalah untuk bertahan hidup, tidak untuk menggantikan-dan berkata, ‘Sekarang mari kita bereskan tempat ini’.”

Ada banyak hal yang harus dilakukan. Taco memburu persediaan dengan mencari ide-ide dan persetujuan pada setiap, langkah dari pekerja per jam. Proses kerja ditata ulang satu per satu. Pemasok diberi tahu untuk membuat pengantaran yang lebih kecil, namun lebih sering. Dulu ketika ada lini pekerja yang melakukan pekerjaan kecil terpisah (dengan bagian-bagian kecil yang datang dan pergi dengan hati-hati pada setiap stasiun), di sana mulai muncul kelompok pekerja yang melakukan beberapa operasi serta bekerja dengan kotak suku cadang yang lebih kecil. Stasiun kerja dijalankan untuk mempersingkat perjalanan operator forklift yang dilakukan ke tempat penyimpanan. Tidak ada satu pun perubahan yang besar-besaran, namun memang tidak dibutuhkan perubahan yang drastis. Johnny White berkata: “Perbedaan antara pabrik tersebut terlihat 4 tahun lalu dan pabrik di abad ke-19 adalah seperti ketika seorang wanita menggunakan sepatu berhak tinggi.”

Keberhasilan tergantung pada kemauan pekerja untuk menawarkan ide, nasihat, dan mempelajari tugas-tugas baru–dengan begitu dapat diperoleh keuntungan dari modal manusia terlepas dari modal fisik. Pusat Pelatihan menjadi pusat penawaran yang dibuat Taco bagi para pekerja, seperti dijelaskan Johnny White: “Anda melangkah masuk pabrik dan meningkatkan kemampuan kerja Anda; kami akan menyediakan alat-alat untuk melakukan hal itu.” Dididik dengan kursus-kursus TQM dan metode manufaktur serta diberdayakan melalui keterampilan keuangan dan kewarganegaraan yang mereka miliki, pekerja Taco melihat bahwa ide-ide mereka dapat membuat perbedaan. Sewaktu keadaan ekonomi berbalik, Taco memenuhi janjinya-membawa masuk peralatan baru, tetapi tidak otomatis yang membuat orang-orang kehilangan pekerjaan mereka. Setiap dolar yang Taco bayarkan untuk peralatan mengurangi biaya persediaan. Ini bukanlah pabrik terbagus yang Anda lihat, tetapi dari foto yang diambil pada tahun 1991 sulit membayangkan bangunan yang bercahaya, bersih, dan lapang seperti sekarang.

Dari titik rendah pada musim semi ‘ tahun 1991 sampai musim panas 1995, penjualan berlipat ganda. jurnlah pekerja-tingkat turnover karyawan kurang dari 1%.–tetap tidak berubah. Harga-harga jarang dianggarkan. Tingkat pertambahan produktivitas pekerja tahunan sekitar 20% -keuntungan yang mengejutkan-hampir semuanya diperoleh dari manusia dibandingkan mesin atau teknologi.

Taco mendapatkan hasil yang luar biasa ini hanya dengan kurang dari $700 per pekerja setiap tahun, ketimbang bonus yang biasanya diberikan dan pembagian keuntungan.

Question

  1. Apa pandangan Taco tentang KM
  2. Kira-kira apa harapan Taco dengan mengadakan berbagai pelatihan tersebut
  3. Kalau anda diposisi John Hazer White, akankah anda melakukan hal yang sama atau ada strategi yang lain
  4. Apa pendapatmu tentang strategi Taco di masa krisis
  5. Apa hal penting yang bisa dipelajari

Jawaban

  1. Tampak jelas bahwa Taco berpandangan KM merupakan sesuatu yang sangat penting dalam perusahaan. Pada bacaan tersebut Taco seakan menekankan bahwa manusia dan ilmu pengetahuannya merupakan aset yang tak tergantikan oleh apapun.
  2. Harapan Taco tentu adalah meningkatkan kualitas SDM di perusahaannya sekaligus memotivasi aset tak ternilai tersebut untuk semakin memiliki komitmen kepada perusahaannya, sehingga kelak perusahaan senantiasa berkembang ke arah yang lebih baik
  3. Tentu saja. Saya juga memiliki pendapat bahwa manusia merupakan aset yang tak ternilai bagi perusahaan, yang patut memiiliki prioritas di atas teknologi dan uang.
  4. Menurut saya hal itu merupakan strategi yang baik dilakukan. Pengurangan tenaga kerja, selain dapat memaksimalkan fungsi setiap anggota di perusahaan, juga dapat meningkatkan investasi modal finansial. Terkadang pekerja yang terlalu banyak menyebabkan efektifitas kerja tidak terlalu baik. Oleh karena itu pengurangan tenaga kerja diharapkan dapat memaksimalkan potensi setiap karyawan. Pengurangan tersebut juga dapat dijadikan sebagai filter dalam menentukan aset perusahaan (dalam hal ini adalah SDM).
  5. Hal penting yang dapat dipelajari adalah kontribusi yang diberikan perusahaan kepada karaywan sebanding dengan loyalitas karyawan terhadap perusahaan pengurangan tenaga kerja terkadang dibutuhkan untuk menjaga kestabilan perusahaan dan memaksimalkan potensi masing-masing karyawan.
Read Users' Comments (0)

Why is Technology so important to KM?

One of most difficult questions I’ve had to answer with respect to the subject of Knowledge Management is why Technology is so important.

The people asking these questions do not confuse Knowledge Management with Content Management ( as a lot of people very often do ). More often than not they do understand what KM is about and what it could potentially achieve.

So what is the answer? Is technology really that important to KM?

I tried drawing a correlation between the various KM initiatives I’ve been a part of over the years and whether technology did play an important role in it. The results were pretty startling, in over 80% of the initiatives technology did play a vital role. The most common role being the ability to bridge the huge geographical divide that comes with the day to day runnings of a Multi-national corporation.

As I’ve stated in many of my previous posts Knowledge Management is very simply creating channels of communications ( in essence, getting people to talk to one another ). With the breadth of communication enablers that we have at our disposal today its no wonder KM has started relying heavily on technology.

Lets not forget another valuable contribution of technology to the implementation of KM in an organization. The ability to derive metrics! a necessary task for those of us battling with the leadership teams for funds. As with all companies success speaks volumes when it is in the form of a verifiable number. KM is held to the same level of accountablility as any other function. You need to know where and how KM helped achieve a particular organization goal.

Bottom line…. For KM to survive in todays organization a technology framework is vital.

Taken from: http://arjunthomas.com/?p=190

Read Users' Comments (0)

Tugas Kelompok-2

FedEx

Apa saja knowledge yang penting bagi perusahaan, dan apa dasar menentukan hal tersebut sebagai knowledge yang penting:

  • Express transportation

Merupakan cara pengiriman barang secara efektif, knowledge ini muncul berdasarkan pengiriman sebelumnya yang sudah pernah terjadi. Dari pengalaman tersebut ditemukan jalur tercepat ke suatu daerah atau tujuan secara lengkap termasuk kondisi jalan (kemacetan, rambu-rambu dan halangan-halangan yang sering dihadapi).

Knowledge ini dianggap penting karena core business dari FedEx adalah jasa pengiriman barang, dimana pelanggan membutuhkan service yang cepat dan tepat. […]

Read Users' Comments (0)

KM Success Factors – Related to Week 1

KM telah berubah selama bertahun-tahun, dapat dimengerti saat ini jauh lebih baikdaripada sebelumnya dan namunkita label dan stereotip itu. Ini adalah salah satualasan mengapa adopsi isnt KM yang luas seperti yang seharusnya.

Salah satu faktor keberhasilan KM  adalah untuk memiliki pemahaman terhadap KM seutuhnya. Ada sejumlah besarkasus-kasus dimana KM sudah berkembang dalam suatu organisasi.

Jadi apa KM? singkatnya itu adalah serangkaian strategi dan pendekatan yangdigunakan untuk maxmize penggunaandan penggunaan kembali aset pengetahuandalam suatu organisasi. Dalam metode kata lain untuk menciptakan nilaiyang lebih besar bagi perusahaan. Sekarang kita sampai ke daging dari topik, faktorkeberhasilan KM. Walaupun adabanyak faktor yang akan memberikan bobotterhadap pembentukan inisiatif KM yang sukses telah banyak dirasakanbahwa seluruh faktor keberhasilan kritis dapat dikelompokkan ke dalam kategori berikut.

  1. Leadership
  2. Culture
  3. Strucuture, Roles and Responsibilites
  4. IT infrastructure
  5. Measurements
Read Users' Comments (0)

KM in Projects

Organizations are growing quickly. mergers, acquisitions and attrition are just some of the challenges to overcome when trying to maintain a knowledgeable workforce.

Companies battle everyday to maximize the capture of tacit and explicit knowledge from their employees and have come up with a number of ways to do so. Collaboration tools, knowledge maps , communities of practice, content management tools, after-action reviews and lessons learned sessions are just some of the methods organizations have devised to counter knowledge attrition.

No single approach however is enough to ensure that knowledge is retained, a mix and match of approaches is required. Though the bottom line is this, unless an organization’s culture is geared towards sharing knowledge, creating systems and processes to enable the sharing of knowledge is a moot point.

These approaches can be followed within the a project as well and become essential tools you , as a project manager, can use to your advantage in running a successful project.

The After-Action review : This is a strategy that has been adopted from the military. Often after an engagement the team will sit down together and go over what occurred, analyzing strengths and weakness. This is an excellent feedback mechanism to promote learning within the team. On a large scale, trends and patterns can be observed by comparing multiple groups, allowing best practices and lessons learned to be replicated across teams.

Communities of Practice: Is one of the simplest ways of connecting people who need knowledge with the groups that have it. Communities of practice are an excellent way to collect and disseminate information to a large audience. In order to maximize the use of a CoP a careful balance of leadership and freedom needs to be given to the community to promote sharing of ideas and knowledge, as a lack of leadership or direction could seriously damage the usefulness of the CoP in the long run.

Expert Directories : Another great way to tap into the tacit knowledge that exists in the organization – the expert directories is a method by which people can interact directly with people considered Subject Matter Experts ( SME’s ) . This however requires voluntary participation by the experts as it requires them to devote time from their busy schedules to address questions that do not benefit them directly.

Information Repositories : The simplest method of extracting and storing explicit information is the information repository. In its most basic form is a large folder with information stored in some sort of a structure. Advanced information repositories or content management systems use meta-tags and taxonomy structures to organize information for the end user in such a way as to provide the maximum value. By creating processes around the system, organization can ensure that all explicit information find’s a place somewhere in the application. It also acts as a medium for the transition of tacit knowledge to explicit.

These are just some of the methods that you could use to promote knowledge sharing and transfer in your organization or project. Keep in mind however that true knowledge retention is a daunting task and unless you have a clear approach mapped out it could lead to some serious complications.

Taken from : http://arjunthomas.com/?p=972

Read Users' Comments (6)

DaimlerChrysler – Tugas 2

The limitations of 100 case histories of industrial mergers (DaimlerChrysler)

In May 1998 the German concern, Daimler, merged with Chrysler, America’s third biggest automobile manufacturer. In September 1999, The Economists reported on the state of the marriage. Noting that the deal was ‘hailed as an inspiration, because of the neat fit of the firms’ products and markets’ and that the logic behind the merger was ‘as impeccable as ever’, the newspaper highlighted some Post-merger setbacks, including:

  • The defection of a stream of talented designers and managers’ to Ford and General Motors’ down the road in Detroit’
  • The issue of selecting one location for corporate headquarters; sooner or later the company will have to choose between Stuttgart and Detroit […]
Read Users' Comments (0)

Saatchi & Saatchi, VW & General Motors

Mini case 1 – Saatchi & Saatchi

In December 1994, as a result of sustained pressure from the principal shareholders, Maurice Saatchi was dismissed from his post as chairman of the company. Saatchi, a controversial figure, had founded and managed the firm. His dismissal was intended to prevent a further sharp fall in the company’s share prices, and it was greeted with initial enthusiasm.

However, the consequences were fatal. Maurice Saatchi quickly formed a new company, continued to trade under the name of Saatchi, and recruited many of the most creative employees from the old company. Owing to this enormous loss of intellectual capital, CORDIANT, the company which succeeded SAATCHI & SAATCHI, lost customer accounts worth over £50m. in a matter of weeks. The share price collapsed by a further third in the following six months.

Mini case 2 – Volkswagen & General Motors

The danger of losing knowledge when key workers depart is by no means restricted to traditionally creative industries such as advertising, design or entertainment. A case in point is the dramatic move of Josh Ignacio Upez, chief of purchasing at GENERAL MOTORS, to VOLKSWAGEN.

This move was the subject of a lengthy debate. GENERAL MOTORS initially made massive demands for damages, alleging that documents or computer files had been transferred illegally. However, this dispute was eclipsed by the fact that here too, the loss of a key employee was followed by the exodus of a whole group of highly skilled managers. Uncoded intellectual assets of incalculable value were carried off in the heads of the renegades, and were irrevocably lost for GENERAL MOTORS.

QUESTION 1

Apa faktor knowledge dalam penekanan kasus diatas?

Faktor knowledge untuk kedua kasus di atas dapat disimpulkan sebagai knowledge worker sebagai agen utama untuk menciptakan value. Melalui cerita di atas dapat kita pandang bahwa karyawan atau pekerja merupakan modal utama perusahaan. Ketika seorang pekerja meninggalkan perusahaan tempatnya bekerja, pada saat itu pula asset perusahaan yang berupa ilmu pengetahuan dibawa pergi bersama karyawan tersebut.

Memang dimungkinkan untuk melakukan transfer knowledge ke karyawan lainnya yang ada di perusahaan tersebut, namun transfer knowledge tidak selalu dapat dilakukan dalam waktu yang singkat. Di samping itu, kreatifitas senantiasa berkembang, sehingga saat seorang karyawan meninggalkan perusahaan, kreatifitasnya pun ikut dibawa pergi ke tempat yang baru.

QUESTION 2

Apa saja kesalahan dari perubahan-perusahaan yang ada diatas?

Kesalahan dari perubahan perusahaan adalah perusahaan kurang mampu mengimplementasikan knowledge management yang baik di dalam organisasinya. Perusahaan tidak memberikan kontrol yang baik untuk memastikan bahwa transfer knowledge telah dilakukan dengan baik di antara para pekerjanya, sehingga ketika seorang perkerja meninggalkan perusahaan, aset penting di perusahaan pun hilang begitu saja.

Kekurangan perusahaan lainnya mungkin dapat dilihat pada kemampuan untuk melihat potensi karyawan dan manajemen sumber daya internal perusahaan. Perusahaan diharapkan dapat memperhatikan potensi setiap karyawan dan melakukan manajemen yang baik untuk menjaga loyalitas karyawan pada perusahaan.

QUESTION  3 🙂

Apa saja faktor pembelajaran yang didapat dari kasus pendek diatas?

Faktor pembelajaran yang dapat diambil dari kasus pendek di atas adalah pentingnya knowledge management dalam perusahaan untuk menjaga stabilitas kemajuan perusahaan. Knowledge management yang baik dilakukan dalam hal mengumpulkan pengetahuan-pengetahuan, melihat dan mengenali secara detail potensi setiap pemilik knowledge, menyimpan setiap informasi yang berbasis knowledge, dan manajemen transfer knowledge yang baik dari satu anggota organisasi kepada organisasi lainnya. Hal ini akan sangat bermanfaat terutama pada saat terjadinya regenerasi karyawan.

Faktor pembelajaran lainnya yang seiring dengan hal itu adalah pentingnya memandang sumber daya manusia sebagai aset penting perusahaan yang tak dapat diganti. Untuk itu, perusahaan diharapkan semakin meningkatkan upayanya untuk memajukan kualitas kerja dan pola pikir karyawan, serta senantiasa mengupayakan loyalitas karyawan terhadap perusahaan tetap terjaga.

Read Users' Comments (0)

Core Process KM – Week 3

Terdapat 5 proses utama dalam Knowledge Management, yaitu:

  • Knowledge Identification

Pada tahap awal proses KM dilakukan identifikasi knowledge apa saja yang telah ada di internal perusahaan,dan apa saja knowledge yg belum ada tetapi dibutuhkan di perusahaan, serta identifikasi  karyawan yang pantas untuk melakukan transfer knowledge.

  • Knowledge Acquisition

Selain mengidentifikasi knowledge internal perusahaan, juga diperlukan dalam melihat knowledge dari luar perusahaan. Pentingnya disini adalah untuk melengkapi knowledge yang tidak ada di internal perusahaan. Dengan begitu kita dapat mengimpor faktor knowledge dari luar untuk menjadi bagian dari keahlian perusahaan. Dalam melihat knowledge dari sisi luar perusahaan hendaknya tetap mempertahankan jati diri perusahaan, dalam arti jika ada perbedaan knowledge yg tidak dapat diterima oleh perusahaan , hendaknya jangan diikutsertakan. Contohnya : Menyewa konsultan bisnis untuk membangun sistem perusahaan.

  • Knowledge Development

Pada tahap ini, dilakukan pengelolaan knowledge yang telah diidentifikasi sebelumnya baik dari dalam maupun luar perusahaan untuk dikembangkan guna menunjang proses penciptaan ide baru dalam pembuatan sistem dimana sistem tersebut dapat digunakan oleh perusahaan dalam pentransferan knowledge untuk menangani proses kerja agar lebih efektif dan efisien. Contoh : Dengan menerapkan peniadaan persediaan barang di perusahaan berarti harus menjalin kerjasama yang kuat dengan supplier. Hal tersebut dimaksudkan agar ketika perusahaan butuh barang secepatnya, supplier sebagai gudang perusahaan, akan mengirimkan barang dengan cepat. Disitulah letak penciptaan ide atau budaya baru di lingkungan perusahaan yang membutuhkan kerjasama antara pihak terkait.

  • Knowledge Sharing/Distribution

Setelah proses pembangunan sistem selesai dan menghasilkan sistem yang berguna untuk proses kerja yang efektif dan efisien. Dalam hal ini perlu adanya pengawasan di perusahaan untuk menerapkan kebiasaan membagikan knowledge yang mereka punya baik dari hasil training atau ide mereka sendiri. Pastinya proses knowledge yang diletakan di sistem merupakan knowledge yang telah diseleksi sehingga berguna bagi karyawan yang berkepentingan. […]

Read Users' Comments (0)